Showing posts with label ILMUAN- STRUCTURAL ENGINEERING( TEKNIK SIPIL). Show all posts
Showing posts with label ILMUAN- STRUCTURAL ENGINEERING( TEKNIK SIPIL). Show all posts

Civil Engineering Scientist-->C R O S S , H A R D Y



*10.2.1885 Nansemond County, USA, †11.2.1959 Virginia Beach, USA
crossIn 1902 Hardy Cross gained a Bachelor of Arts in English and in 1903 a Bachelor of Science at Hampden-Sydney  College. For the next three years he taught English and mathematics at Norfolk Academy.
At the age of just 23, he gained a Bachelor of Science in civil engineering at the Massachusetts Institute of Technology (MIT) and subsequently worked for two years in the bridge-building department of the Missouri Pacific Railroad in St. Louis. In 1911 Havard University awarded him the academic grade of Master of Civil Engineering. After that, Cross worked as assistant professor at Brown University and then, following a short period in practice, was promoted to professor of civil engineering at the University of Illinois in 1921.
From 1937 until he was granted emeritus status in 1951, he taught and performed research at Yale University and was head of the Department of Civil Engineering.
In his 10-page contribution to the Proceedings of the American Society of Civil Engineers (ASCE) in 1930, Cross solved the Gordian knot of the consolidation period of the theory of structures. His stroke of genius was to calculate statically indeterminate systems by iterative means using the simplest form of  arithmetic [Cross, 1930]. The Cross method was admirably suited to analysing systems with a high degree of static indeterminacy, as is common in the design of high-rise buildings, for example.
With one fell swoop, Cross ended the search which had characterised the application phase of structural theory – the hunt for suitable methods of calculation for solving systems with a high degree of static indeterminacy by rational means. The Cross method initiated not only an algorithmisation of structural theory, which was without precedent in the 20th century, but also raised the rationalisation of structural calculations to a new level.
It is therefore not surprising that in the wake of his work a flood of lengthy discussion articles appeared in the Transactions of the ASCE [Cross, 1932]. His ingenious iterative method provoked countless engineers – well into the innovation phase of structural theory – to describe the Cross method and develop it further. Indeed, so much has been written that it would easily fill the medium-sized private library of any academic! And the Cross method was not just confined to theory of structures; it was also quickly accepted in disciplines such as shipbuilding and aircraft design. Cross himself transferred the basic idea of his iterative method to calculations of steady-state flows in pipework – the Hardy Cross method – and there, too, achieved a phenomenal breakthrough. The honours he received are too numerous to mention.
Main contribution to structural analysis :
  • Analysis of continuous frames by distributingfixed-end moments [1930];
  • Analysis of continuousframes by distributing fixed-end moments[1932/1];
  • Continuous Frames of ReinforcedConcrete [1932/2];
  • Analysis of continuous framesby distributing fixed-end moments [1949];
  • Engineers and Ivory Towers [1952];
  • Arches, Continuous Frames, Columns and Conduits:Selected Papers of Hardy Cross [1963]
wiryanto.wordpress.com

Civil Engineering Scientist -->TA K A B E YA , F U K U H E I


TA K A B E YA , F U K U H E I
*9.9.1893 Okazaki near Nagoya, Japan, †24.4.1975 Kamakura, Japan
takabeyaAfter completing his education at the 8th state grammar school in Nagoya, Fukuhei Takabeya studied at the Imperial Kyushu University in Fukuoka (1916–19), where he afterwards served as a lecturer until 1921. He gained his doctorate at the Imperial Kyushu University in 1922 with the dissertation On the calculation of a beam encastrĂ© at both ends taking special account of the axial force.
Over the years 1921 to 1925 he was an associate professor at the Imperial Kyushu University and in May 1925 he was appointed professor at the Imperial Hokkaido University in Sapporo, but returned to the Imperial Kyushu University in 1947. He was professor at the Japanese Defence Academy from 1954 to 1966 and afterwards worked at the University of Tokai until 1972.
He became an honorary member of the Japanese Society of Civil Engineers (JSCE) in 1963, and honorary professor of the Japanese Defence Academy in 1966. Takabeya developed the iteration methods of Cross and Kani further to form a highly effective computational algorithm at the transition between the invention and innovation phases of structural theory [Takabeya, 1965 & 1967], which was especially useful for analysing systems with a high degree of static indeterminacy in high-rise buildings.
Main contributions to structural analysis :
  • On the calculation of a beam encastrĂ© at bothends taking special account of the axial force[1924];
  • Frame tables [1930/1];
  • On the calculationof stresses in plane, encastrĂ© flat metal sheets[1930/2];
  • Multistorey frames [1965 & 1967]

ilmuan gempa :Charles Francis Richter


Charles Francis Richter
Nama lengkapnya Charles Francis Richter. Dilahirkan di sebuah peternakan di Ohio, Amerika Serikat, pada 26 April 1900. Pada usia relatif muda, 16 tahun, bersama ibunya ia pindah ke Los Angeles, California. Di kota inilah Richter menjalani pendidikan seismologi di University of Southern California (1916-1917). Setelah itu, ia pindah ke Standford University untuk belajar fisika teori dan lulus tahun 1920. Di almamater pertamanya, tahun 1927 ia bekerja di laboratorium seismologi di Pasadena, California. Setahun kemudian ia menikah dengan Lilian Brand.


Di tahun 1928, Richter meraih doktor dari Universitas California Institute of Technology (Caltech). Di universitas inilah Richter mencapai ketenaran. Di Caltech pula, bersama Beno Guetenburg, pada tahun 1935 Richter mengembangkan suatu cara untuk mengukur besaran gempa bumi, yakni apa yang kemudian dikenal dengan skala richter. Yaitu berdasarkan besarnya amplitudo gempa bumi yang terekam oleh alat seismometer tipe Wood-Anderson pada jarak tertentu dari sumber gempa. Prinsipnya, besarnya skala magnitudo gempa berbanding lurus dengan besar amplitudo dan berbanding terbalik dengan jarak alat ke sumber gempa.

Skala richter menguraikan kekuatan gempa bumi dengan angka-angka pada kisaran antara 0 - 9. Artinya, angka 9, seperti yang terjadi pada gempa bumi yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, merupakan angka tertinggi dan jarang terjadi.

Meski pada mulanya, di tahun 1930-an, belum pernah terjadi gempa bumi berkekuatan lebih besar dari magnitudo 8,9, skala tersebut hingga sekarang masih digunakan. Angka magnitudo gempa diperoleh dengan mengukur amplitudo terbesar dalam mikron ( 10-6 m = 10 pangkat minus enam) pada seismogram. Jarak seismograf dirancang dengan standar sejauh 100 km dari pusat gempa. Dari situ diperoleh logaritma gempa.

Selain membuat skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan suatu gempa, Richter juga menuliskan buku teks untuk seismik. Antara lain Elementary Seismology (195 8) dan Seismicity of The Earth (1954) yang dituliskan bersama koleganya, Beno Gutenberg. Bersama Frank Presso, Beno Gutenburg, dan Hugo Benioff–tiga ilmuwan dan ahli seismologi dari California Institute of Technology (Caltech), Amerika Serikat–Richter dikenal sebagai Bapak Seismologi (The Fathers of Seismology).

Richter mengaku bahwa skala yang ia kembangkan didapat secara tak sengaja ketika sedang mengerjakan tugas doktoral untuk fisika teori di bawah Dr. Robert Millikan. “Ia (Millikan) menawarkan saya bekerja di laboratorium seismik di bawah Harry Wood,” katanya. Akhirnya di sanalah ia mendapatkan data-data yang dijadikannya dalam penentuan skala richter yang legendaris itu. Pada mulanya skala richter digunakan untuk mengukur kekuatan relatif gempa bumi di California. Kini, skala itu (dalam bentuk yang sudah dimodifikasi) digunakan untuk mengukur gempa bumi di seluruh dunia.

Richter memang bukan orang pertama yang membuat skala penentuan besaran kekuatan gempa. Sebelumnya sudah ada Giuseppe Mercalli, ilmuwan asal Italia, yang mempelajari gunung api dan menciptakan skala mercalli. Pada skala mercalli, intensitas gempa bumi diukur dengan skala yang terdiri dari 12 poin. Skala Mercalli ini mengukur suatu gempa bumi dari laporan orang-orang yang melihat kerusakan dan mewawancarai mereka yang selamat. Karena itu, skala mercalli sangat subjektif dan tidak seakurat skala richter sehingga untuk mengukur kekuatan gempa hingga kini tetap digunakan skala richter. Sejak tahun 1960-an juga mulai diperkenalkan skala moment magnitude yang lebih akurat.

Jauh sebelum Richter lahir, sebuah prototipe skala gempa dengan skala kerusakan 10 tingkat, telah dikembangkan Rossi dan Forel tahun 1883. Setelah itu, pada tahun 1897 muncul pula skala mercalli—saat itu masih menggunakan skala yang sama dengan Rossi dan Forel, 10 tingkatan. Cancani pada tahun 1904 lebih mengembangkan lagi kisaran skala menjadi 12 angka. Setelah itu, Sieberg melanjutkan dengan menganalisis efek dan deskripsi kerusakan bangunan dan menjadikannya diterima sebagai skema internasional pada 1917. Sejak saat itulah, skala tersebut dinamakan skala mercalli-cancani-sieberg dan digunakan di seluruh dunia. Namun, sejak 1964, para ahli lebih banyak menggunakan skala mercalli yang sudah diperbaharui.

Skala gempa juga dibuat bangsa Jepang. Karena posisi dan kondisi geologinya, negeri tersebut sering dilanda gempa yang merusak. Tak heran jika kemudian para ahli gempa Jepang secara kreatif menciptakan skala gempa tersendiri, yang berbeda dengan skala gempa mercalli. Tahun 1900 muncul skala Omori yang mengukur kekuatan gempa pada tujuh tingkat kerusakan. Namun, skala tersebut kemudian dimodifikasi menjadi hanya enam tingkat saja. Skala Omori mengukur gempa berdasarkan tingkat kerusakannya. Angka satu untuk mengukur gempa yang terlihat jelas, namun tak berbahaya. Sementara angka enam untuk mengukur gempa yang bersifat merusak.

Richter meninggal dunia di Pasadena, California, AS, pada tanggal 30 September 1985. Meski sudah tiada, nama dan jasanya akan tetap dikenang orang. Sebagai bentuk penghargaan kepada para peneliti di bidang kegempabumian, mulai tahun 2005 diberikan penghargaan berupa Richter Award. Dr. Emily Brodsky dari Universitas California, Los Angeles, terpilih menjadi orang pertama penerima Richter Award. Upacara penganugerahan kepada Emily akan dilakukan dalam sebuah pertemuan tahunan tahun 2006. Panitia memilih Emily atas pertimbangan bahwa risetnya mengenai bagaimana gempa bumi, gunung api, dan longsor terjadi, dinilai sangat inovatif dan menonjol. (Syarifah/dari berbagai sumber)***

Ref : http://klipingut.wordpress.com/2008/01/02/charles-francis-richter-1900-1985-tak-sengaja-temukan-skala-richter/